Jokowi Akan Copot 5 Menteri Kabinet Yang Dinilai Prestasi Kinerja Tidak Bagus

Jokowi Akan Copot  5 Menteri Kabinet Yang Dinilai Prestasi Kinerja Tidak Bagus
Jokowi Akan Copot 5 Menteri Kabinet Yang Dinilai Prestasi Kinerja Tidak Bagus • sn/red

Selecta News, Jakarta- Presiden Jokowi mengevaluasi kinerja pembantu tugasnya, ada beberapa Menteri Dengan melakukan reshuffle untuk meningkatkan kinerja para Menteri dalam waktu 4 tahun untuk memulihkan perekonomian Indonesia.

Dengan begitu, menjadi momentum relawan Jokowi, setidaknya ada 5 Menteri posisinya disebut tidak aman. Karena mereka layak untuk diganti. Ketua Umum Jokowi Mania Immanuel Ebenezer

sejelas-jelasnya mengupas pelaksanaan reshuffle yang sudah di depan mata dianggap menjadi momen yang sangat penting dan sudah tepat sebagai evaluasi mengganti menteri yang kinerjanya kurang baik.

Kalau kita bahas dan analisa siapa gerangan anggota Kabinet yang bakal di-reshuffle ? soal itu Immanuel mengaku belum dapat tahu pasti maupun memprediksi menteri mana yang dicopot.

Namun, menurut pandangan dan Analisis relawan ada 5 Menteri atau setingkat
menteri yang mesti dicopot.

"Soal pergantian itu adalah hak proregatif Presiden.Tetapi yang jelas menteri atau setingkat menteri yang tidak perform, yang tidak bekerja bagus," jelasnya.

Dengan.bicara blak blakan.menyinggung soal menteri yang layak diganti Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dan Mendikbud Nadiem.
Makarim yang terdata dalam catatan tidak aman.

Lutfi dan Syahrul dinilai sama-sama buat polemik karena tidak bisa menghentikan impor
beras. Mereka tidak bisa menjaga stabilitas pangan di dalam negeri. Kebijakan antara kementerian juga bsnyak yang tidak

sejalan.

"Khusus Mentan, sampai saat ini dia belum bisa menjawab berbagai permasalahan terkait pupuk," ujar Immanuel

Soal Jaksa Agung, Ebenezer disebutkan banyak datanya. "Nanti saya kasih. Yang jelas. Sampai sekarang mafia hukum gila-gilaan," tambahnya.

Pratikno yang berlatar belakang akademisi dan punya SOP di kementerian, kerap salah dan tidak jelas.

Misalnya ,kesalahan ketik pada UU 11/2020, tentang Cipta Kerja dan ketidaktelitian dalam
membuat Peraturan Presiden (PP) terkait investasi miras.

"Persoalan tiga tahun tidak impor beras juga salah. Data yang diserahkan Pratikno kepada bspak Presiden Jokowi tidak akurat
Buktinya kita impor beras sejak, 2018, dan. ,2019 dan 2021 juga ada beras yang masuk," papar Immanuel.

Selanjutnya, Nadiem.Makarim meski tidak terlalu menyoroti Immanuel tidak melihat ada terobosan mas menteri dalam dunia Pendidikan.

"Performance anjlok belum ada terobosan berbasis digital di dunia pendidikan. Diakan diharapkan untuk itu. Jangan disamakan bisnis Gojek dengan menata penfidikan," tutupnya.(leo.s / shaf)

Iklan Center 970x90

Berita Terkait