Dokter Lecehkan Calon Perawat di Surabaya, IDI Imbau Korban Lapor

Dokter Lecehkan Calon Perawat di Surabaya, IDI Imbau Korban Lapor
Dokter Lecehkan Calon Perawat di Surabaya, IDI Imbau Korban Lapor • Kpr

Selecta News- Selain kasus pelecehan seksual yang dilakukan perawat kepada pasien wanita di National Hospital Surabaya, ada juga pengakuan dari korban lain yang merasa dilecehkan oleh dokter berinisial R di rumah sakit tersebut.

Selain kasus pelecehan seksual yang dilakukan perawat kepada pasien wanita di National Hospital Surabaya, ada juga pengakuan dari korban lain yang merasa dilecehkan oleh dokter berinisial R di rumah sakit tersebut.

Korban merupakan calon perawat yang saat itu sedang menjalani tes kesehatan tahun 2017 lalu. Korban menyebut dokter R meraba organ tertentu yang sifatnya sensitif dan meminta dia melepas pakaian. Kasus pelecehan ini sudah pernah dilaporkan ke Polda Jatim Agustus 2017 lalu.

Dugaan kasus pelecehan oleh dokter mendapat tanggapan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur. IDI Jatim mengaku hingga saat ini belum menerima laporan soal tindakan tersebut.

"Tidak ada laporan apapun pada IDI baik dari korban ataupun dokter R sendiri, ataupun pihak rumah sakit, serta kepolisian," kata Ketua IDI Jawa Timur Dr. Poernomo Boedi S. Sp.PD,K-GEH saat jumpa pers di kantornya, Jalan Dharmahusada, Senin (29/1).

Poernomo mengatakan pada prinsipnya masalah yang viral di media sosial belum tentu kebenarannya. Pihak IDI Jatim juga belum mendapat laporan resmi.

"Saya tidak akan berkomentar bila berdasarkan media sosial saja. Karena itu kan hanya dari satu sisi," ujarnya.

Saat ditanyai terkait laporan korban terhadap dokter R ke Polda Jawa Timur, Poernomo mengungkapkan belum mendapat panggilan. "Belum pernah ada satu surat pun terkait laporan tersebut. Polda tidak pernah memberikan," katanya.

Poernomo menambahkan pihak IDI tidak akan menindaklanjuti kasus ini bila tidak ada laporan secara resmi dari pihak yang bersangkutan. "Tidak bisa karena kita kan bukan investigator. Kita bukan lembaga hukum jadi kita tidak berhak," ujarnya.

Menurutnya, walaupun media ramai, pihaknya tidak berani bertindak lebih jauh. Karena untuk melakukan tindakan, IDI harus mencocokan standar dengan kode etik profesi. Dia juga mengimbau agar pihak yang merasa dirugikan untuk segera melapor ke IDI.

"Selama tidak ada laporan kita tidak bisa menyimpulkan apa pun. Kita juga harus periksa rekam medik dan lain-lain. Itu membutuhkan izin khusus," ujarnya.

IDI Jatim juga mengimbau bila ada pasien atau keluarga pasien merasa ada yang tidak sesuai saat mendapatkan pelayanan medis, mereka bisa melapor kepada pimpinan instansi kesehatan. Bisa pula menyertakan laporan kepada pihak IDI Jawa Timur.

"Lebih cepat dan tertulis itu lebih bagus. IDI bisa memprosesnya selama hal itu terbukti melanggar kode etik profesi," tegas Poer.

Kasus pelecehan yang melibatkan oknum tenaga medis rupanya bukan kali pertama terjadi di National Hospital Surabaya. Sebab, pada Agustus 2017 silam, terdapat kasus pelecehan yang hampir serupa. Hanya saja yang menjadi korban justru calon perawat.

Seorang perawat dengan inisial OP (19) mengaku telah dicabuli. Pelakunya adalah seorang dokter dengan inisial R. Kasus ini sudah dilaporkan ke Polda Jatim.

Kasus ini tengah ditangani penyidik Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim. Perkara itu dengan nomor laporan LPB/1039/VIII/2017/UM/JATIM pada 25 Agustus 2017.

"Sekarang perkaranya lagi digelar untuk menentukan penyidikan selanjutnya. Kemungkinan pekan depan dr R yang dilaporkan akan dipanggil untuk menghadap penyidik," ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera.

Soal alasan kenapa laporan Agustus 2017 baru diusut sekarang, Barung menjelaskan saksi-saksi yang ada belum mengarah pada keterangan kunci. "Tentunya penyidik harus bekerja, menggali informasi untuk menguaknya," bebernya.

Untuk membuktikan adanya tindak pidana, penyidik masih mencari second opinion terkait standard operating procedure (SOP) perekrutan karyawan di RS National Hospital dengan RS lain.

Sebab masing-masing rumah sakit memiliki SOP yang berbeda. Dokter R yang dibidik dalam kasus ini, kata Barung sudah dilakukan konfrontasi tapi belum dipanggil secara hukum.

"Setelah dilakukan gelar perkara untuk penentuan tersangka, maka R langsung dipanggil untuk diperiksa," imbuhnya.(sn/kpr)

Iklan Center 970x90