Usut Kasus Pencabulan 15 Siswa di Surabaya Oleh Guru Ekskul Pramuka, Polda Jatim Pilih Cara Baru ini

Usut Kasus Pencabulan 15 Siswa di Surabaya Oleh Guru Ekskul Pramuka, Polda Jatim Pilih Cara Baru ini
Usut Kasus Pencabulan 15 Siswa di Surabaya Oleh Guru Ekskul Pramuka, Polda Jatim Pilih Cara Baru ini • tnc

Selecta News-Tim Renakta Ditreskrimum Polda jatim terus mengusut kasus pencabulan yang dilakukan oleh Rahmat Santoso Slamet (30), seorang guru ektrakulikuler pramuka terhadap 15 siswa binaanya di enam sekolah di Kota Surabaya.

Kasubdit IV Ditreskrimum polda jatim AKBP Festo Ari Permana menuturkan, pihaknya saat ini melibatkan beberapa psikolog dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk melakukan pendampingan pada para korban.

“Mereka memudahkan kami untuk mencari korban-korban lainnya di sekolah-sekolah yang belum kami datangi, dan Kami juga akan minta kesaksian atas tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka,” katanya, Rabu (24/7/2019).

Menurut Festo Ari Permana, problem mendasar kasus kekerasan seksual adalah tak semua korban memiliki keberanian mengungkapkan fakta tentang kekerasan yang dialaminya.

“Tingkat kesulitannya adalah karakter korban dari kasus pencabulan ini cenderung tertutup tidak terbuka karena mereka menganggap itu juga sebagai aib dan semacamnya,” katanya.

Kata Festo Ari Permana, hingga saat ini belum ada nama baru yang mengisi daftar jumlah korban pencabulan yang dilakukan oleh pelaku si guru ektrakulikuler pramuka ini.

“Dari 15 korban kami sudah kami ambil keterangan juga ada beberapa orangtua korban dan ada beberapa saksi dari pihak sekolah mungkin ada sekitar 20 orang,” tandasnya.

Modus Pelaku

Sebelumnya, Tim Renakta Ditreskrimum polda jatim berhasil meringkus seorang guru ekstrakurikuler Pramuka bernama Rahmat Santoso Slamet (30).

guru ekstrakurikuler Pramuka tersebut ditangkap karena diduga melakukan perbuatan cabul pada siswa binaannya, Selasa (23/7/2019).

Sedikitnya, ada 15 anak di bawah umur yang menjadi korban kebejatannya.

Para korban merupakan siswa binaan ekstrakulikuler dari lima SMP dan satu SD di Kota Surabaya.

"Rata-rata mereka adalah anak di bawah umur sekitar usia 13-15 tahun," ujar Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera.

Kombes Pol Frans Barung Mangera mengungkapkan, belasan korban yang sementara ini diidentifikasi oleh penyidik, berjenis kelamin laki-laki.

"Kami tentu akan melibatkan, Kedokteran polda jatim untuk memastikan orientasi seksual pelaku," ujarnya.

Perbuatan cabul tersangka dilakukan sejak pertengahan 2016 hingga 2019.

Menurut Kombes Pol Frans Barung Mangera, pelaku awalnya mengajak beberapa siswa datang ke rumahnya dengan alibi memberikan binaan khusus tentang Ilmu Kepramukaan.

"Pelaku melakukan perbuatan itu di rumahnya, jadi kelompok Pramuka anak-anak itu kan memang dibagi tim tim inti itu (nama timnya minion) memang dipanggil ke rumahnya. Di situlah pelaku lakukan aksi cabulnya," jelasnya.

Kombes Pol Frans Barung Mangera menerangkan, 15 korban itu bukanlah jumlah akhir dari proses penyidikan.

Ia menduga, masih banyak korban lainnya yang belum melapor.

"Dari pengakuan pelaku pelaku sudah menjadi instruktur Pramuka sejak 2016 sampai tahun 2019, dan anak yang sudah dibinanya sudah ratusan,"

Sementara itu Kasubdit IV Ditkrimum polda jatim, AKBP Festo Ari Permana menuturkan, ada juga yang bukan dari siswa sekolah yang dibina pelaku dalam ektrakulikuler Pramuka.

"15 korban ini ada yang bukan dari sekolah binaan tersangka tapi ada yang dari tetangga korban," tandasnya.(tnc/sn)

Iklan Center 970x90